Sejarah Ku Sayang, Sejarah Ku Malang

Posted: Mei 16, 2010 in Fokus
Tag:, ,

Bagian Pertama Dari Dua Tulisan

Aceh mulai merasakan spirit perjuangan para leluhur yang memudar. Pasalnya, generasi muda Aceh lebih banyak berfikir sejarah itu tak penting. Dan akibatnya, situs-situs sejarah dan museum-museum yang ada pun menjadi terlupakan dan dimanfaatkan. Walaupun hanya sebagai objek wisata dikala akhir pekan.

Proklamator kemerdekaan Indonesia, Ir. Soekarno pernah mengeluarkan sebuah fatwa yang menganjurkan agar masyarakat Indonesia tidak melupakan sejarah. Pernyataan tersebut kemudian dikenal dengan sebutan “Jas Merah”. Melalui pernyataan tersebut, seluruh masyarakat Indonesia dimintai untuk menghargai, merawat dan melestarikan sejarah walau sekecil apapun. Baik itu sejarah yang sifatnya tulisan, lisan dan bahkan benda-benda/situs sejarah.

Sampai saat ini, tercatat ratusan museum telah dibangun di seluruh Indonesia untuk menjaga dan melestarikan benda-benda bersejarah yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Tak terkecuali dengan provinsi Aceh, negeri yang penuh dengan sejarah pergolakan dan konflik politik sepanjang berdirinya nanggroe ujung sumatera ini.

Banyak sekali benda-benda dan sumber sejarah tersebut tersebar di tanah rencong. Baik itu prasasti, naskah, dokumen-dokumen penting dari masa kerajaan sampai masa kemerdekaan, arsip peperangan Aceh melawan Belanda sampai dengan makam para pejuang ada di bumi Serambi Mekah ini. Sayangnya, banyak sumber-sumber sejarah tersebut kurang mendapat perawatan yang baik dari pemerintahan dan masyarakat Aceh sendiri.

Dominan masyarakat saat ini mengetahui sejarah Aceh hanya setipis kulit ari saja. Terlebih generasi muda yang lahir akhir abad 20 dan awal abad 21 banyak yang mulai melupakan sejarah ke-Aceh-annya. Bilapun ada, hanya generasi pejuang kemerdekaan yang kental mendapat catatan sejarah Aceh dari tetuanya.

Seperti halnya beberapa rekan-rekan pemuda yang mengetahui sejarah raja Iskandar Muda, namun tidak pernah sekalipun menziarahi makam raja yang pernah menjayakan Aceh melalui angkatan perang, Gajah Putihnya itu karena tidak mengetahui lokasi makam tersebut.

Itu hanya salah satu dari sekian banyak tempat peristirahatan terakhir pejuang kemerdekaan Aceh. Cut Meutia, Teuku Umar, Panglima Polim, Laksamana Malahayati dan banyak lagi makam pejuang Aceh telah hilang dari ingatan sang generasi Aceh saat ini, contoh lainnya. Hal ini, merupakan fenomena yang sepatutnya disesalkan oleh generasi muda Aceh. Termasuk orang-orang tua. Karena, asasinya makam-makam para raja dan pejuang merupakan sumber awal dari ada atau tidaknya sejarah suatu daerah.

Sebagai ilustrasi, Ismail salah satu penulis handal di Aceh. Ia sangat dikenal oleh masyarakat luas melalui tulisannya. Suatu hari, setelah selesai menuliskan sejarah kehebatan Iskandar Muda yang dimuat dalam salah satu media lokal, ia menjadi bimbang. Pasalnya sampai umurnya menginjak kepala tiga dan hidup puluhan tahun sebagai putra Aceh, tak sekalipun ia pernah mengunjungi makam Poteumeurhom tersebut.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya,” tutur Soekarno, yang kini hanya terbungkus dalam buku-buku biografi presiden RI pertama itu. Tidak ada aplikasi nyata dalam benak bangsa kita saat ini.

Belum lagi dengan situs-situs sejarah lainnya yang ada di Aceh. Katakan saja seperti Benteng Indrapatra, Benteng Inong Balee, Mesjid Indrapuri, Benteng Kuta Batee di Pidie Jaya dan beberapa situs sejarah lainnya yang mulai lekang dimakan usia. Tidak ada perawatan dan bahkan terkesan diabaikan. Jika di negara lain objek-objek sejarah seperti ini bisa menjadi asset bagi pariwisata yang jelas menguntungkan negara, tidak bagi situs-situs sejarah yang ada di Aceh. Hanya ilalang, semut dan bahkan rayap yang tak bosan menemani.

Konon lagi, mahasiswa-mahasiswa sejarah yang ada di Aceh. Mereka terlalu sibuk dengan pendidikan melalui bukunya. Sedangkan penerapan dan perhatian kepada aset-aset dan situs sejarah tersebut, sama sekali nihil. Jikapun ada, hanya sebatas menghabiskan dana program organisasi saja tanpa ada tindak lanjutnya.

Beberapa pekan terakhir, kembali lagi ditemukan jejak kerajaan Samudera Pasee di Aceh Utara. Setelah sekian lama terkubur, situs sejarah tersebut mulai terlacak kembali. Itupun dikarenakan faktor ketidak sengajaan para buruh bangunan yang hendak mendirikan mesjid di lokasi tersebut.

Setelah meninggalnya Tgk. Ibrahim Alfian, salah satu sejarawan Aceh yang tersohor keseluruh dunia, sejarah nanggroe rencong ini hanya sebatas pada seminar, diskusi dan teori-teori saja. Sementara melacak, melestarikan, memperkenalkan sejarah Aceh kembali terkesan dan terbatas hanya di bangku-bangku pendidikan. Tidak ada upaya yang dilakukan dari para ahli, dalam hal ini generasi Aceh sendiri untuk membangkitkan spiritual sejarah Aceh ke muka dunia.

Konflik yang berkecamuk di ranah Laksmana Malahayati ini, menjadi salah satu alasan menenggelamkan perhatian kita pada situs-situs sejarah. Belum lagi kurangnya anggaran dari pemerintah untuk hal ini. Sehingga lengkaplah sudah konsep dan program cuci otak rezim kolonialisme gaya baru dalam melupakan sejarah bagi generasi muda kita.

Walaupun begitu, kita tidak menafikan adanya rehabilitasi beberapa situs sejarah yang didanai pemerintah. Walaupun itu terbatas sekali jumlahnya. Belum lagi, adanya pembangunan beberapa lokasi sejarah dan budaya baru yang menghabiskan dana milyaran rupiah. Sebut saja sebagai contoh pembangunan Taman Ratu Safiatuddin di Banda Aceh dan Monumen Islam Asia Tenggara di Aceh Timur.

Khusus bagi Taman Ratu Safiatuddin yang diciptakan sebagai plagiat dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta, tak lebih menjadi tempat-tempat hiburan bagi acara seremonial dan kantor dari beberapa wadah organisasi saja. Selebihnya, terbengkalai karena tidak ada daya tarik kuat yang ada.

Beberapa kali mengunjungi tempat tersebut, seringkali satuan petugas keamanan dari Forum Bersama (FORBES) Damai Aceh yang berkantor dalam komplek taman tersebut mengeluhkan kurangnya perawatan dan perhatian pemda kepada taman itu. Ilalang kerap tumbuh semrawut. Pagar-pagar besi, hilang ke tempat penampungan barang-barang bekas. “Ada perhatian pun kalau mau di buat acara,” ujar beberapa satpam tersebut.

Lain halnya dengan Monumen Asia Tenggara (Monisa) yang ada di Perlak-Aceh Timur. Sebelum musibah tsunami dan Mou Damai, objek sejarah tersebut hanya ditemani hembusan angin dan sarang laba-laba saja.

Rumah Cut Nya’ Dhien lain lagi ceritanya. Berlokasi di Lampisang, Aceh Besar, rumah yang dibangun untuk penghormatan sekaligus situs sejarah mengenang kegigihan srikandi Aceh, Cut Nya’ Dhien menemui beberapa kendala. Sebut saja atapnya yang mulai hancur dan banyaknya rayap yang menyerang tiang-tiang rumah Aceh itu, merupakan sisi negatif perhatian masyarakat Aceh terhadap kecintaannya kepada sejarah. Jikapun bagus, itu semua berkat tsunami. Akan tetapi, tetap sepi kala hari berganti hari.

Sebagai bahan renungan, penulis pernah melakukan beberapa wawancara dengan masyarakat. Dalam wawancara tersebut, salah satu pertanyaannya adalah seberapa banyak kerajaan yang pernah berdiri dan megah di bumi Seuramo Mekkah selain kerajaan Aceh? Jawabannya, 10 persen masyarakat dan mahasiswa Aceh menjawab diatas 6 kerajaan. Yakni, Samudera Pasee, Perlak, Pedir, Lamuri, Lingga dan kerajaan Darul Kamal. Selebihnya, tidak tahu.

Jika melangkah pada pertanyaan berapa jumlah raja dari Kerajaan Aceh, lebih hebat lagi. Hanya Iskandar Muda dan Iskandar Tsani yang diketahui. Padahal banyak sekali raja-raja dari Kerajaan Aceh Darussalam yang pernah memerintah selain dua raja tersebut.

Itu belum seberapa. Syahdan, beberapa ahli pernah menyebutkan banyak peninggalan-peninggalan sejarah Aceh telah hilang disebabkan konflik yang berkepanjangan di Aceh. Mulai dari perang dengan Belanda, dilanjutkan dengan Jepang, Peristiwa DI/TII, GAM dan konflik politik lainnya, situs-situs dan benda-benda sejarah banyak yang hilang.

Misalnya, beberapa dokumen penting Kerajaan Aceh, serta Meriam sicupak kini hanya bisa ditemukan di Belanda. Seharusnya ada upaya yang dilakukan pemerintah untuk memulangkannya kembali ke Aceh. Bangsa Asing saja mau menjaga benda-benda sejarah kita, kenapa kita tidak. Atau mungkin terlalu repot dan hanya menghabiskan anggaran pemerintah saja jika dipulangkan ke Aceh? Entahlah? Tapi ungkapan Jas Merah oleh Soekarno nampaknya harus kita realisasikan. Tidak hanya menjadi tulisan dalam buku-buku saja. Agar sejarah kita dikenal dan dikenang oleh anak cucu Aceh dan Indonesia serta dunia nantinya.

Sukee lhee reutoh ban aneuk blang,
Sukee jak sandang jeura haleuba
Sukee thok batee na bacut-bacut
Sukee imum peut nyang gok-gok donya

Menyitir sedikit syair dari seniman Aceh yang terkenal, Rafly, sukee lhee reutoh menunjukkan banyak sekali sejarah Aceh yang mulai tergerus oleh arus globalisasi. Padahal, dalam syair tersebut jelas-jelas Rafly mengajak kita mengenal penduduk Aceh masa sebelum kerajaan dulunya. Sayangnya, ketika mendengar syair tersebut banyak muda-mudi Aceh mengaku bingung. “Peu di ratoih si Rafly nyan?” begitulah kata-kata yang keluar dari mulut mereka.

Mengabadikan sejarah melalui syair-syair merupakan langkah bijak saat ini. Pasalnya, banyak generasi muda Aceh saat ini terlalu jenuh membaca buku-buku atau tulisan yang bermanfaat. Mereka lebih tertarik membaca buku-buku cerita pendek yang bertemakan percintaan dan memanjakan mata dengan menonton televisi selama 24 jam.

Asai Nanggroe bak rimba Tuhan
Huteun keurajeun hana saboh na…
Oh Aceh lon sayang. Sejarah mu mulai pupus di ingatan generasi bangsa kita!…bersambung…

About these ads

Komentar ditutup.