Buku Nikah

Posted: Oktober 10, 2011 in Resahku
Tag:

Tujuh tahun telah berlalu semenjak musibah tsunami melanda nanggroe kami. Namun, sekelumit masalah-masalah pasca rehabilitasi, belum juga selesai. Mulai dari perkara rumah bantuan, sampai perkara arsip-arsip yang hilang dalam bencana tersebut.

Sekelumit masalah itu, dikemudian hari mencuat ke permukaan setelah tertutup rapi sekian lama. Kini muncul bagai bom waktu ketika para korban mulai berani berteriak, meminta hak mereka yang didzalimi oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Sebut saja misalnya permasalahan rumah bantuan bagi para korban.

Bagi yang sudah mendapatkan, diam seribu bahasa. Bagi yang belum, mereka apuh-apah meminta haknya dan seterusnya beban itu bertambah seiring keluarga-keluarga mereka yang sudah berkeluarga. Tentu saja, mereka membutuhkan rumah baru, bagi keluarga baru.

Permasalahan lain yang muncul adalah mengenai arsip-arsip identitas yang hilang dan belum sempat diganti sampai sekarang. Contohnya, masalah buku nikah. Permasalahan ini muncul setelah pihak pemerintah memberlakukan kewajiban pada semua masyarakat nanggroe kita, harus mempunyai akte kelahiran bagi seorang anak ketika mendaftarkan sekolah dan bekerja di instansi pemerintahan.

Masyarakat “mantan” korban bencana yang selama ini lalai dan tidak sempat memikirkan hal tersebut, terpaksa harus mengurus masalah akte ini karena sifatnya : Penting. Pengurusan akte ini, kemudian memunculkan masalah baru, yakni bagi mereka yang masih mempunyai orang tua harus menyertakan salinan foto copy buku pernikahan.

“Buku nikah kami sudah hilang dan kami tidak pernah mengurusnya sejak bencana itu,” lakap Apa Maun, mengisahkan kesusahannya.

Lanjutnya, sekarang dirinya harus membuat lagi buku nikah ke instansi terkait. Pembuatan buku nikah itu, harus juga mengikuti persidangan pernikahan layaknya pengantin baru yang dihadiri oleh saksi-saksi.

“Kalau begini, baiknya saya menikah dengan orang lain saja,” guraunya, seraya terkekeh.

“Hahaha…ada-ada aja Apa Maun. Bagaimana dengan Ummi Kalsum nanti kalau Apa menikah lagi?” jawab Dek Gam, menenggarai canda Apa Maun.

“Yach, dia juga menikah dengan orang lain juga lah. Kan peu cina buta Dek Gam?”

“Dron sit galak neu mita inong laen,” sahut Ummi Kalsum tiba-tiba muncul dari dapur rumahnya.

“Hehehe…” kedua pembicara ini pun tertawa.

“Tapi, tak sebegitunya lah apa. Demi anak, Apa wajib lah mengurus kembali buku nikah dan bersedia naik sidang kembali. Hitung-hitung, bulan madu kedua Apa. Keun nyoe Ummi?” rayu Dek Gam, sembari tersenyum kemudian kembali bertanya pada Ummi.

“Kau ada-ada saja Dek Gam. Sekali menikah saja, aku sudah demam panggung. Sampai sekarang pun, aku masih demam panggung kalau bertemu dengan kwaket,” cerita Apa Maun.

“Daripada anak Apa tak punya Akte Kelahiran, kan lebih baik Apa yang berkorban. Kasihan Apa, kedepannya, semua-semua pakai keterangan lahir tersebut.”

“Memang sih Dek Gam, tapi memikirkan naik sidang pernikahan ini yang menggelitik perutku. Sudah seumuran kami, kok dinikahkan ulang. Belum lagi, aku sudah lupa tanggal perkawinan kami dulu. Belum lagi, para saksi-saksi yang pernah menghadiri pernikahan kami juga sudah meninggal semua kena bencana,” sebut Apa.

“Itu resiko Apa. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu…”

“Baru mati kemudian,” sergah Apa Maun. “Bukan Apa, bersenang-senang kemudian. Apa, kalau si Mail nanti sudah ada Akte, cita-cita dia selepas kuliah mau jadi pegawai negeri sudah lempang. Nanti pasti diminta juga kan akte kelahiran. Belum lagi anak Apa yang paling kecil itu, masuk ke sekolah nanti juga dimintai akte,” terang Dek Gam.

“Hmmm…iya juga ya. Oh ya, kamu punya uang sedikit Dek Gam. Aku hutang dulu buat ke Ibukota Kabupaten. Katanya, buat buku nikah gak bayar. Tapi, kalau naik sidang harus bayar.”

“Emang berapa bayarannya Apa?”

“Sekitar Rp160-200 an gitu. Aku kurang tahu juga Dek Gam. Kabar yang berhembus begitu kiranya,” jelas Apa Maun lagi. “Oh…ada Apa. Buat Apa Maun, apa yang tak ada. Asalkan dipotong hutangku pada warung Ummi Kalsum ya. Hehehe,” senda Dek Gam.

“Ada-ada saja kamu Gam. Itu nanti lah kita luruskan. Ya sudah, sini uangmu dulu. Aku mau urus buku nikah bersama Ummi Kalsum. Kami mau menikah lagi.” Setelah mengambil uang yang diberikan Dek Gam, Apa Maun bersama Ummi Kalsum pun berkemas. Setengah jam lebih mereka berdandan. Kemudian menghidupkan motor bututnya. “Hai Apa. Sudah siap berangkat ya?”

“Iya nih. Oh ya, kamu sudah membuat Akte kelahiran tersebut? Siapa tahu nanti diminta juga buku nikah. Kamu bawa saja calon istri kamu, terus kita ikut pengadilan menikah bersama-sama.”

“Memangnya mau kenduri, makan sama-sama. Beda Apa, kalau aku tidak menikah ulang seperti Apa. Nanti lah aku menyusul Apa. Dron ka dua geu, gob meusigeu pih gohlom,” kata Dek Gam.

“Hehehe. Peu ka preh man lom. Kalau Akte, kamu juga gak mau buat?”

“Aku tak punya lagi orang tua Apa. Aku tak tahu, tanggal apa mereka menikah. Buku nikahnya ikut hilang bersama ayah dan ibu ku,” kenang Dek Gam.

“Oh…ya sudahlah, aku caw dulu ya. Hahaha…menikah lagi ya kita Ummi?” goda Apa Maun, disusul cubitan Ummi Kalsum di pinggang Apa. Han ek takhem.[]

Komentar telah ditutup