Oleh : Boy Nashruddin Agus
Adat bak Po teumeurhom, Hukom bak Syiah Kuala mungkin sudah tak cocok lagi untuk Aceh. Bagaimana kalau diganti saja dengan Adat bak tivi, hukom bak pancuri?
Kalimat ini muncul di benak saya setiap melihat tampilan anak-anak jaman sekarang yang sudah terlewat batas. Lihat saja di jalanan Aceh saat ini, banyak sekali remaja yang memakai pakaian kumal dengan rambut yang jingkrak-jingkrak bak sapu ijuk. Selain itu, terkadang mereka menggantung kalung besar bahkan rantai sepeda motor di lehernya. Sekilas tampak lucu, dan itu terbersit dalam pikiran saya, setiap melihat mereka melintas di depan mata.
Kalau dulu, tampilan ini bisa kita lihat di televisi-televisi luar. Sekarang, Banda Aceh sudah menyajikan pameran tampilan “orang aneh” ini. Benarkah sudah separah ini budaya remaja-remaja di Aceh? Apakah ini salah satu kebebasan berdemokrasi yang dikampanyekan oleh Amerika itu, sehingga sekarang pun kita mengikuti trend pemuda pengangguran dari negeri Paman Sam atau Eropa (Barat) tersebut?
Sejarah Punk
Punk Skinheads muncul di Inggris pada pertengahan sampai akhir tahun 60-an. Mereka lahir dari anak-anak muda kelas pekerja yang memiliki sebuah budaya kasar dan brutal. Mereka memotong rambut menjadi cepak atau bahkan botak dan menentukan fashion kas yang menurut mereka dianggap efisien dan cocok ketika mereka tawuran di jalanan.
Rutinitas malam hari Skinheads adalah nongkrong di klab-klab kecil di daerah East End London dengan pakaian terbaik mereka. Berdansa dengan musik yang dibawa oleh imigran Jamaika, mulai dari ska, soul, bluebeat, blues Jamaika dan juga rocksteady. Mereka mabuk dan bercanda dengan sesamanya serta imigran Jamaika.
Mereka sering disebut dengan Rudies (Rude Boy/Girl). Penggunaan kata rude di Jamaika berarti liar, kejam dan tidak perduli akan segala akibatnya. Setelah hampir 40 tahun dengan segala perkembangannya, kelompok ini sudah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia sejak era 80-90 an.
Idealisme dan jalan hidup punk Skinheads adalah Do it Yourself. Kandungan kalimat itu adalah paham anarki. Menurut mereka anarki adalah suatu paham ideal yang hampir semuanya terkait dengan pemberontakan menuju persamaan (derajat, jenis kelamin), kemanusiaan, feminisme yang menghormati segala bentuk kehidupan ini.
Mereka menyatakan diri sebagai kemarahan yang lahir dari kehidupan sekitar yang penuh pandangan seksisme (pengistimewaan/pelecehan terhadap jenis kelamin tertentu), rasialisme, penindasan, kelaparan, penderitaan, kapitalisme dan perusakan lingkungan hidup yang tidak pernah dibicarakan oleh media dan orang-orang kebanyakan.
Ada beberapa landasan prilaku anak muda punk ini, sesuai dengan kelompok-kelompok mereka. Seperti Rebeis with a Cause yakni skinheads yang identik dengan kekerasan (violence), berkelahi (fight) dan pemberontakan. Kemudian Bower/Aggro (skins yang identik dengan “jika kata-kata tidak bisa menyelesaikan maka kepalan tangan dan boot yang bicara, lalu Get a life.
Skins ini mempunyai landasan prilaku berupa harus berkeyakinan kuat, optimis pada yang dilakukan dan inginkan, berjuang untuk bertahan hidup dan dinamis. Terakhir adalah Crucilied Skins. Kelompok ini selalu melakukan tindakan mentato tubuh dengan lambang crucilied skins sebagai tanda keberhasilan menjadi skinheads selama 3-5 tahun dan telah berjuang mati-matian menghadapi hidup yang banyak tantangan, serangan dan cemoohan.
Gaya Rambut Mohawk
Mohawk adalah sejenis gaya rambut yang fenomenal, unik dan nyentrik karena sangat berbeda dengan penataan rambut pada umumnya. Gaya rambut ini pada umumnya memotong habis bagian sisi kiri dan kanan, kemudian menyisakan bagian tengahnya saja dari depan hingga kebelakang. Sekilas memang serupa dengan bentuk rambut kuda.
Mohawk sering di kaitkan juga dengan gaya rambut penduduk di lembah Mohawk di bagian utara kota New York Amerika Utara. Sebelumnya pernah ditemukan juga gaya rambut berjenis Mohawk di Yunani yang menggambarkan Scythian (seorang pejuang olahraga) pada masa 600 tahun SM. Meski demikian gaya rambut Mohawk yang sekarang popular cenderung disebutkan berasal dari Amerika.
Keadaan tersebut mengacu pada popularitas Mohawk yang menjadi icon khas untuk para Punkers (komunitas punk) yang ada di dunia. Dimana diyakini bahwa asal mula kelahiran Punk ada di Amerika yang di pelopori oleh group band Ramones.
Meskipun gaya rambut Ramones tidak bergaya Mohawk, tapi kehadirannya memang menjadi inspirasi dari band punk berikutnya. Seperti Blink182 The exploited dan sex pistol. Karakter musik punk bertempo cepat dengan beat-beat yang menghentak. Ramones memang yang pertama kali meramu jenis musik tersebut.
Sampai sekarang Mohawk masih terkait dengan gaya anak punk, tapi masih jadi bagian mainstream. Biasanya Mohawk diiringi dengan sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh dan identik dengan punk.
Budaya Samurai
Pernahkah anda menonton film garapan hollywood yang dibintangi Tom Cruise berjudul “The Last Samurai”? Jika pernah, pasti ada sisi-sisi tertentu yang membekas dalam pikiran anda. Bisa jadi, sisi tersebut mengenai bagaimana para samurai ini bertahan hidup atau mungkin sisi lainnya. Serunya aksi film tersebut dan lain sebagainya.
Tapi, mungkin ada yang sepakat dengan saya. Film The Last Samurai ini mampu menyajikan sebuah pesan kepada dunia, bagaimana pun negeri Jepang berubah dan membentuk kepribadian mereka ke arah yang lebih modern, namun mereka tetap memegang teguh prinsip samurai yang disiplin, rela mati jika membuat kesalahan dan memalukan bangsa dan negaranya.
Sebagian besar masyarakat Jepang, sampai saat ini masih menerapkan disiplin samurai (bushido) ini dalam kepribadian hidup mereka. Lihatlah perkembangan Jepang dari sisi teknologi. Mereka berkembang pesat setelah negara mereka di bom atom oleh Amerika dan sekutunya, tahun 1940-an. Kini, mereka jadi raksasa teknologi yang ditakuti hampir oleh seluruh dunia. Walaupun dikemudian hari, mereka harus kembali dari nol setelah badai tsunami menghantam dan menghancurkan pabrik-pabrik besar industri negara sakura tersebut.
Sisi modern yang diperlihatkan Jepang, seharusnya menjadi pembelajaran bagi kita orang timur yang mempunyai peninggalan budaya besar dari leluhur. Tidak seharusnya kita mengikuti pola hidup bangsa barat yang sebenarnya saat ini, budaya mereka kembali menjadi bangsa “barbarian” tanpa ada tujuan dan pegangan hidup (hedonisme dan vandalisme). Budaya yang lambat laun kembali pada jaman jahiliyah. Budaya primitif yang sebenarnya kembali pada masa purbakala.
Filosofi Rencong
Sebagai orang Aceh, kita mempunyai satu budaya yang sangat khas. Budaya tersebut tercetak dengan rapi dalam sebilah rencong yang dipergunakan untuk melindungi diri dan guna menegakkan keadilan pada masanya.
Rencong merupakan senjata khas masyarakat adat Aceh yang mempunyai makna filosofi erat dengan identitas orang-orang Aceh, yakni muslim.
Dari pola pembuatannya, rencong berbentuk kalimat Bismillah. Ini dapat di lihat dari gagangnya yang melekuk dan menebal pada sikunya yang merupakan aksara Arab Ba. Di bujuran gagangnya, rencong berbentuk aksara Sin, bentuk lancip yang menurun ke bawah pada pangkal besi dekat dengan gagang senjata khas Aceh ini merupakan aksara Mim. Lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara Lam sementara ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit ke atas merupakan aksara Ha.
Jika kita mengerti akan makna yang tertera pada rencong dengan rangkaian aksara dari Ba, Sin, Lam dan Ha tersebut, maka dapat dikatakan rencong adalah perwujudan kalimat Bismillah. Pembuatan rencong dengan bentuk Bismillah ini, membuktikan bahwa pandai besi yang menciptakan rencong adalah orang yang pandai akan magrifat besi serta memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi.
Pembuatan rencong seperti kalimat dengan menyebut nama Allah tersebut, juga merupakan warisan budaya leluhur yang selalu mengingatkan bahwa dengan rencong, kita wajib mempertahankan budaya Aceh yang sangat erat keimanannya dengan Islam.
Kebebasan bukan kebablasan
Setelah mengupas satu persatu mengenai mode punk (skinhead) , budaya samurai dan filosofi rencong, penulis hanya ingin mengajak generasi muda Aceh untuk dapat mengenali budaya ke-Aceh an yang kian tergerus oleh budaya-budaya luar.
Mode Punk, sebenarnya sangat tidak sesuai dengan ciri kepribadian masyarakat Aceh yang didominasi oleh kepribadian muslim. Ajakan ini, bukan karena penulis membenci pragmatisme dan tidak menghormati budaya masyarakat minoritas, tapi lebih dikarenakan rasa cinta yang mendalam pada regenerasi remaja Aceh.
Penampilan punk dengan gaya rambut mohawk atau jingkrak-jingkrakan, memakai kalung_seperti maaf_anjing buldog (kalung spike) menunjukkan moral orang tersebut mengalami kerusakan dan sama sekali tidak sesuai dengan aqidah muslim. Kalau penulis boleh beropini, ini sebenarnya sudah kebablasan bukan lagi kebebasan untuk tampil di muka umum.[]





