Seorang kawan bertanya pada saya, apa yang paling saya inginkan saat ini. Lalu saya pun menjawab seraya sumringah, “Saya sangat ingin menikah muda.”
“Bukankah umurmu hampir berkepala tiga sekarang?” tanya Ia lagi.
“Ya, umurku memang hampir berkepala tiga,” jawabku.
“Hehehe…selain menikah muda, apalagi yang kamu inginkan?”
“Hmmm…aku ingin hengkang ke luar negeri. Merasakan atmosfir negara-negara luar. Menguji kemampuan bahasa asing yang hanya litle2 I can itu dan…yach..tentunya ingin menikmati sedikit kehidupan kawan-kawan yang telah berhasil di luar negeri.”
Selanjutnya kawan tersebut bertanya, kehidupan kawan-kawan yang bagaimana maksudku itu.
“Ya kawan-kawan yang sekarang menjalani studi di negeri Amerika, Eropa, Asia bahkan Afrika dan Australia. Intinya, kawan-kawan yang hari ini bercerita banyak tentang kehidupan sehari-hari mereka di luar negeri dengan menggunakan bahasa asing,” jawabku agak sedikit panjang.
“Kalau tak salah, berarti kamu ingin melanjutkan studi ke luar negeri?”
“Bisa jadi. Tapi lebih tepatnya aku ingin merasakan kehidupan mapan diluar negeri kemudian kehidupan ku itu, ingin ku ceritakan dan ku rangkum dalam sebuah buku. Sebut saja misalnya seperti Andrea Hirata yang mampu menceritakan kehidupan seorang mahasiswa Indonesia di Eropa secara mendetail dalam novel nya Maryamah Karpov atau Edensor itu. Atau seperti Habiburrahman El Shirazy yang menceritakan seorang mahasiswa Indonesia yang bisa hidup ditengah peliknya negara Mesir dalam novel Ayat-Ayat Cinta,” cerita ku lagi.
“Memang kamu bisa menulis seperti mereka seandainya pun kamu bisa hidup disana?”
“Tidak. Tapi aku tak kan berhenti belajar untuk bisa seperti mereka,” ujarku.
“Hahaha..Kau hanya seorang pemimpi kawan. Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Di Indonesia saja. Masih banyak hal yang bisa kamu tuliskan. Tentang Aceh saja belum banyak yang membuat cerita-cerita menarik, baik fiksi maupun non fiksi,” lakap teman itu, seraya meledek ku.
“Betul katamu. Tapi, negara apalagi Aceh saat ini belum bisa terbuka seutuhnya. Memang, banyak hal yang bisa kita ceritakan dari negeri ini. Namun, hawa disini terlalu panas, kawan. Banyak orang saling curiga dan belum bisa sepenuhnya menerima kebebasan berpendapat. Untuk seorang pemula seperti diriku, butuh tempat tenang untuk menyelesaikan ceritaku. Apalagi, terkadang disaat bercerita dalam tulisan ku itu, seringkali aku menyentuh hal-hal yang mulai ditabukan atau ditutup-tutupi.”
“Cerita apa memangnya, kawan?”
“Mungkin, sepenggal kisah konflik.”
“Ahhh..buat apa kau tertarik dengan kisah-kisah sperti itu?”
“Seperti kau katakan tadi, kawan. Aceh ataupun negara kita Indonesia ini hanya bisa menyajikan cerita konflik pada kita. Lihat saja sekarang ini, pasca damai, masih saja orang berkonflik ria. Konflik kepentingan, konflik kekuasaan, konflik ekonomi dan perut yang lapar, konflik lapangan kerja dan bahkan lainnya,” jelasku, pada kawan tersebut seraya mengulum asap tembakau.
“Salut..aku salut pada mu, kawan. Di umur mu yang hampir mencapai kepala tiga, kau masih bercita-cita menikah muda. Di tengah kondisi yang untuk makan saja susah, kau ingin berkelana seraya mengambil studi ke luar negeri dan hidup mapan disana. Optimis sekali dirimu?”
“Hahaha..satu kata bijak dari seorang berilmu, mengajarkan aku untuk jadi seperti itu. Katanya, jangan kau merasa puas dengan kehidupan ini. Teruslah belajar dan belajar. Ibaratnya seperti mangga. Kalau ia nya cepat merasa tua atau mengkal, maka ia akan cepat lah menjadi busuk. Tetaplah kamu merasa masih putik atau muda, dengan begitu kamu akan terus menerus mengalami proses menjadi mengkal, ranum dan baru tua kemudian busuk. Oya, satu lagi kawan, bukankah ada satu kalimat bijak lain yang mengatakan ; belajarlah dari ayunan sampai ke liang lahat. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubahnya?”
“Ya…ya..ya, semoga cita-citamu itu terwujud kawan. Aku kan mendukungmu sepenuhnya.”
“Amin…”[]





